Halaman Profil

Profil

Pesantren adalah salah satu alternatif model pendidikan yang memiliki akar sejarah di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia. Bahkan jika dikelola dengan serius, terpadu dan profesional, maka pesantren bisa menjadi alternatif pendidikan terbaik.
 
Melalui sarana pesantren, para santri dididik dan dibina sepenuhnya 24 jam dalam sehari. Mereka bukan saja belajar Islam secara teoritis, tapi juga dapat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantren mereka dapat dijaga dari berbagai pengaruh lingkungan yang negatif, yang belakangan ini menjadi kendala utama pendidikan anak. Apalagi jika pesantren diasuh oleh guru-guru yang handal dan berakhlak mulia, maka tujuan pesantren yang sangat luhur untuk menumbuhkan seluruh potensi santri secara utuh, insya Allah akan lebih mudah terwujud.
 
Sadar akan pentingnya pendidikan pesantren yang komprehensif tersebut, maka pada tanggal 20 Juli 1998 didirikanlah Pesantren Tahfidz Quran Terpadu Al Hikmah.
 
Selanjutnya mulai bulan Juli tahun 2014, kampus Pesantren Tahfidz Quran Terpadu Al Hikmah dipisah antara putra dan putri, kampus 1 putri di desa Bobos dan kampus 2 putra di desa Balad.
 
Visi
Menjadi lembaga pendidikan Islam terdepan dalam mencetak generasi Qurani dan Dai Robbani.
 
 Misi

1.Menanamkan nilai-nilai Islam melalui tahsin, tafhim, tahfidz dan tathbik Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
2.Transfer ilmu pengetahuan
3.Berdakwah menuju masyarakat Islami
4.Menciptakan lingkungan Islami 

 Tujuan Pendidikan
Pesantren ini bertujuan membentuk anak-anak shaleh yang mandiri, terampil, dan kreatif dengan kriteria:
1.Hafal dan dekat dengan Al Quran
2.Beraqidah lurus
3.Beribadah benar
4.Berakhlak mulia
5.Berpikir cerdas
6.Berbadan sehat
7.Berwawasan baik
8.Giat bekerja
9.Berguna bagi masyarakat
10. Mampu mengendalikan hawa nafsu
 
  Jenjang Pendidikan :
1.SMP Pesantren Al-Hikmah (sejak 2009)
2.SMK Takhassus Quran Al-Hikmah (sejak 2012) Program Keahlian    :
- Multimedia (sejak 2012)
 -Perbankan Syariah (sejak 2014)
3.MA Pesantren Al-Hikmah (sejak 2015)